Tanam 1.050 Batang Talas Beneng, PPMKP Wacanakan Pembangunan Eduwisata

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Bogor mewacanakan lokasi pengembangan penanaman  talas beneng menjadi area eduwisata. Hal ini mencuat saat dilakukan kegiatan penanaman 1.050 bibit talas beneng. Area tanam tersebar di seluruh area PPMKP dan dipusatkan di area Obor Pangan Lestari (OPAL) di Komplek Bina Karakter, seluas 2,7 ha awal pekan ini.

Yusral Tahir, Kepala PPMKP menyampaikan pengembangan talas beneng dilirik karena tanaman ini sarat potensi. “Kita memperkenalkan dan menanam talas beneng. Karena talas ini memiliki potensi yang luar biasa. Dalam usia empat bulan sudah bisa panen daun. Daun ini bisa dijadikan tembakau herbal dan sudah diekspor ke beberapa negara diantaranya Australia, “ ujar Yusral Tahir saat membuka kegiatan.

Konsep eduwisata sejalan dengan roadmap diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat non beras yang diluncurkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Roadmap diversifikasi pangan hulu hingga hilir, meliputi produksi, pascapanen, stok dan pengolahan, pemasaran hingga pemanfaatan berupa edukasi ke masyarakat.

Kegiatan penanaman menggandeng Dudi Supriyadi penggiat talas beneng, yang juga koordinator model Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kostratani Kecamatan Mandalawangi sebagai pemandu,  diikuti pegawai dan petugas kebun. Kapus berharap semua pegawai agar bisa ikut bersama – sama berpartisipasi dan aktif berkontribusi.

Mengenai hal ini Dudi Supriyadi menyambut baik rencana pengembangan eduwisata talas beneng. “Melihat optimalisasi lahan di sekitar opal setidaknya itu bisa di poles menjadi daya tarik wisata bisa internal dan umum,“ ujar Dudi.

Mengambil brand talas dikatakan Dudi sangat menarik, karena banyak jenis talas yang dapat dijadikan koleksi. “Ambil brandnya talas bisa di buat ngopi di kebun talas, sambil melihat jenis – jenis talas, menikmati olahannya juga,“ ungkapnya.

Talas beneng dapat diolah menjadi aneka makanan, hal ini membuka peluang pemberdayaan masyarakat sekitar untuk mengolah dan menjajakan hasil karya olahan talas. “Olahan talas bisa jadi brownies, ice cream, talas, pizza, talas, cookies talas  dan lain – lain,“ bebernya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, situasi saat ini harus dimanfaatkan untuk memproduksi pangan lokal baik secara on-farm maupun off-farm. “Dengan situasi pandemi yang masih berlangsung ini, kita harus terus menggenjot produksi pangan lokal. Apalagi Indonesia kaya akan pangan lokal seperti sagu, singkong, jagung, ubi, talas dan lainnya,” ujar Dedi.

Regi/PPMKP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here