Ditengah Pandemi, Rumah Ternyata Jadi Tempat yang tak Layak Bagi ‘Broken Home’

0
227
ilustrasi

Bogor | Jurnal Inspirasi

Sebagian masyarakat mungkin merasa bisa tenang dan aman melakukan kebijakan yang mengharuskan mereka berlama – lama di rumah, karena dapat mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19), sekaligus menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Namun, bagaimana jadinya dengan masyarakat yang memiliki masalah kompleks di rumahnya? Seperti para individu broken home, dan para korban kekerasan dalam rumah tangga.

“Rumah bagi aku adalah tempat paling gak nyaman, aku selalu pergi berkegiatan diluar rumah dan baru pulang larut malam,” ujar FO (21) salah seorang mahasiswa yang mengalami broken home, Kamis (1/10).

Mahasiswa semester 5 di salah satu Universitas di Bogor ini, mengaku kesulitan mengerjakan semua tugas kuliah ditengah situasi di rumahnya yang tidak kondusif. FO mengaku selama dia melakukan self – quarantine ia merasa lebih depresi dari biasanya, merasa lebih sedih, dan kesepian.

FO merupakan satu dari jutaan orang yang memiliki nasib sama, yaitu memiliki masalah kompleks dirumah dan merasa rumah bukan tempat berlindung yang tepat. Untuk sekarang, yang bisa dilakukan oleh kelompok rentan ini hanyalah bersabar dan tetap tegar menunggu wabah Covid – 19 berhenti menyebar.

Apa yang dialami FO seiring dengan survey di Tanah Air yang dilakukan pada April hingga Mei 2020 oleh Komnas Perempuan secara daring. Dilansir dari laman BBC.com, lembaga masyarakat yang melindungi hak – hak perempuan di China, mendapatkan laporan kekerasan dalam rumah tangga 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya. Namun, pihak kepolisian kurang menanggapi dengan serius persoalan ini dengan alasan pandemi. Di Indonesia sendiri, Komnas Perempuan menyebutkan terjadi peningkatan kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga ) selama pandemi Covid – 19.

Belum lagi masalah lain dapat timbul dari keluarga yang mengalami krisis ekonomi. Hilangnya pemasukan akan membuat situasi semakin sulit untuk meninggalkan rumah. Ditambah tuntuntan pekerjaan atau tugas sekolah yang dibebankan akan meningkatkan rasa depresi dan stress kepada kelompok rentan ini.  Bagi mereka berada di rumah sama saja dengan mendekatkan diri dengan masalah dan bahaya.

Seperti diketahui sudah sejak enam bulan berlalu setelah masuknya wabah virus Covid – 19 ke Indonesia. Kebijakan demi kebijakan sudah diupayakan oleh pemerintah guna mencegah penyebaran virus Covid – 19. Dari mulai kebijakan Physical Distancing,  PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga kebijakan new normal. Pada saat ini pemerintah Kota Bogor, Bima Arya memperpanjang kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK) karena angka kasus Covid – 19 di Kota Bogor masih belum pulih. Pada intinya pemerintah  tetap menganjurkan masyarakat untuk selalu berada dirumah, dan sebisa mungkin perusahaan maupun kegiatan pendidikan terus dilakukan dari rumah.

** Herninda Febiola [MG]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here