Covid Diatasi Pakai Remdesivir Covifor

0
151

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Obat Remdesivir Covifor dinilai potensial dalam penanggulangan Covid-19 di Indonesia yang kini angka kematian terus meningkat. Obat ini tersedia di Indonesia mulai, Kamis (1/10). “Mulai hari ini sudah siap. Remdesivir siap didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius dalam konferensi pers peluncuran obat Remdesivir Covifor, Kamis (1/10).

Covifor merupakan obat Remdesivir versi generik yang diproduksi oleh perusahaan farmasi multinasional asal India, Hetero. Kalbe Farma bersama Amarox Pharma Global bertindak sebagai distributor obat tersebut. Vidjongtius memastikan bahwa pendistribusian Covifor telah mendapatkan persetujuan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Obat ini diberi izin untuk emergency use,” kata Vidjongtius. Artinya, obat hanya akan langsung didistribusikan ke rumah sakit dan tak akan tersedia di apotek. Remdesivir sendiri merupakan obat antivirus yang dianggap potensial untuk mengatasi infeksi virus corona. Sejumlah uji coba telah menemukan bahwa Remdesivir efektif dalam mengurangi tingkat viral load pada pasien Covid-19. Sebelumnya, Remdesivir juga sempat digunakan untuk mengatasi wabah Ebola, MERS, dan SARS.

Dokter spesialis paru Erlina Burhan mengatakan bahwa remdesivir bekerja dengan menghambat proses replikasi virus pada sel-sel tubuh yang diserang. Dengan cara ini, tingkat keparahan diharapkan bisa diminimalisasi. “Obat ini kerjanya berkompetisi [dengan virus yang sudah berikatan dengan ACE-2], sehingga mencegah terjadinya proses replikasi,” ujar Erlina, dalam kesempatan yang sama.

Erlina berharap, dengan masuknya Remdesivir ke dalam tubuh pasien, proses sintesis dari RNA virus bisa terhambat dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas. “Saya menyambut gembira obat remdesivir di Indonesia. Kami [tenaga medis] sudah memasukkan remdesivir sebagai salah satu standard of care [untuk Covid-19],” kata Erlina.

Saat ini, Erlina mengatakan, Covifor akan diberikan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat. “Untuk [pasien Covid-19] yang berat, angka keberhasilannya tidak terlalu besar,” kata dia. Remdesivir menjadi salah satu pilihan untuk mengobati pasien Covid-19 dalam kondisi kritis.

Hingga saat ini, Indonesia telah mencatat sebanyak 287.008 kasus Covid-19. Sebanyak 10.740 pasien Covid-19 dilaporkan meninggal dunia. Angka kematian tercatat mengalami peningkatan dalam beberapa hari ke belakang.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta PT Bio Farma (Persero) mempercepat produksi obat Remdesivir. Pasalnya, obat Remdesivir disebut bisa mengobati pasien Covid-19. “Harus diupayakan untuk segera produksi dalam negeri. Kita cari bahan-bahannya itu nanti, jadi jangan ada hambatan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Minggu (27/9).

Sementara Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman mengungkapkan ‘plus minus’ penggunaan obat Remdesivir dalam penanganan pasien terpapar Covid-19. Dicky mengatakan Remdesivir umumnya digunakan pada penanganan pasien wabah Ebola. Namun, kata dia, obat tersebut cukup efektif diberikan pada pasien Corona dengan kondisi kritis. “Efektif, tapi pada pasien kritis,” kata Dicky, Minggu (27/9).

Dicky menyebut pasien positif Covid-19 dalam kondisi kritis bisa membaik dengan persentase 68 persen setelah diberi obat tersebut. “Kritisnya itu ya bagaimana orang yang sudah pakai alat bantu pernapasan seperti itu. Nah, dengan obat itu jadi jumlah dari virus yang menyerang turun. Misalnya napas terganggu jadi turun,” kata Dicky. “Tapi tetap yang harus diingat masyarakat, ini hanya untuk kasus tertentu. Bukannya tenang ada ini (Remdesivir),” ujarnya menambahkan.

Meskipun demikian, Dicky menyebut obat tersebut tidak praktis dalam penggunaannya. Pasien yang memakai obat ini harus menggunakannya dengan metode infus. Kemudian dari sisi harga, ia bilang jauh dari kata murah jika berkaca dari pemasarannya di luar negeri. Harga obat untuk satu pasien Covid-19 mencapai US$2.340 atau sekitar Rp34,9 juta, menggunakan kurs Rp14.938. “Itu biasanya untuk penggunaan lima hari per pasien, bukan harga murah,” katanya.

Jika obat itu diproduksi di Indonesia, Dicky mengatakan semua tergantung bagaimana kerja sama Indonesia dengan pemilik hak paten Remdesivir, Gilead. Termasuk juga mengenai ketersediaan bahan baku di Indonesia. “Jadi isunya dua hak patennya seperti apa negosiasinya, dan bahan baku. Indonesia kan untuk parasetamol saja bahan bakunya masih impor,” ujar Dicky.

Sementara itu Epidemiolog dari Universitas Indonesia Syahrizal Syarif mengatakan obat ini memang menjadi rujukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) lantaran efektif mencegah replika virus. “Kalau Bio Farma bisa dapat izin dari perusahaan Gilead pemilik paten remdisivir untuk produksi sendiri atau kerjasama, hebat. WHO anggap Remdesivir (obat Ebola) sebagai obat paling efektif untuk cegah replikasi virus Covid-19,” kata Syahrizal.

Menteri Kesehatan Terawan mengatakan bahwa dia akan mendukung semua riset yang dilakukan untuk memproduksi Remdesivir dalam negeri. Dalam hal ini, Kemenkes akan bekerja sama dengan BUMN farmasi dan BPOM. “Kami akan koordinasi supaya segala sesuatu tepat sasaran, tepat waktu dan kita tidak membuat kebijakan yang justru kita tidak bisa menyelamatkan (pasien covid-19) seperti apa yang Pak Luhut sampaikan,” ujarnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan darurat obat Remdesivir untuk menangani Covid-19 di Indonesia. Obat ini hadir dengan beberapa efek samping yang perlu diketahui dari ringan hingga berat. “Diduga akan memengaruhi liver dan ginjal,” kata Erlina. Dia melanjutkan, ada dugaan yang menemukan bahwa Remdesivir dapat meningkatkan kadar enzim hepatik. Untuk itu, dia menekankan, pasien dengan masalah liver dan ginjal tidak disarankan untuk menjalani pengobatan dengan Remdesivir.

**ass

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here