Imbas Pembelajaran Daring, Kuota Melejit Warga Menjerit

0
216

Bgor | Jurnal Bogor

Kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor terus menerapkan sistem belajar secara online untuk murid SD hingga SMP. Hal itu lantaran pandemi Covid-19 belum kunjung mereda. Namun, hal tersebut justru banyak dikeluhkan orangtua siswa, karena mahalnya biaya kuota internet dan handphone android.

“Memang sejak belajar di rumah, uang jajan anak berkurang. Tapi masalahnya, kuota juga semakin mahal. Karena menggunakan zoom. Coba sekali zoom, membutuhkan banyak kuota,” ujar salah seorang warga Tanah Baru, Hera, Senin (27/7/2020).

Seharusnya, kata dia, Disdik menerapkan sistem jemput bola, dengan cara mendatangkan guru ke rumah.

“Kan bisa saja dibuat program home visit. Kalau begini, uang jajan berkurang. Biaya beli kuota internet meledak. Itu lebih efektif,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Fraksi Kebangkitan Bintang Restorasi (KBR), Jatirin mengaku bahwa ia banyak menerima keluhan terkait kebijakan tersebut.

“Keluhan banyak, terutama dari warga ekonomi menengah ke bawah. Kan nggak semua punya HP android dan bisa terus membeli kuota internet,” ungkapnya.

Menurut dia, Pemkot Bogor melalui Disdik harus melakukan evaluasi ulang program kegiatan belajar mengajar secara daring. Hal itu lantaran kebutuhan rumahtangga banyak tersedot untuk pembelian kuota internet.

“Hal itu sangat memberatkan. Apalagi bagi mereka yang punya anak tiga, dan semuanya harus belajar online. Selain butuh kuota internet, mereka juga harus punya HP android tiga buah. Belum tentu mereka sanggup beli,” kata Jatirin.

Kegiatan belajar mengajar secara daring sah-sah saja dilakukan, asalkan Pemkot Bogor memberikan subsidi untuk pembelian kuota internet. “Kalau pemerintah berikan subsidi nggak apa-apa. Disini kan pemerintah seolah tidak hadir. Ini kan kontradiktif, rakyat lagi susah secara ekonomi, malah dibebani lagi,” jelasnya.

Jatirin mengatakan, seharusnya Disdik menginstruksikan para guru untuk membuat soal sepekan sekali, dan dikumpulkan pekan depannya.

“Jadi sistem seperti itu terus diulang ulang. Tiap sepekan sekali, orangtua datang mengambil soal, dan diserahkan lagi pekan depannya. Guru buat soal, dan wali murid mendampingi anaknya di rumah masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan kajian terhadap mekanisme pemberian subsidi kuota internet. “Sekarang mekanisme subsidinya sedang dipelajari,” katanya.

Namun, kata Dedie, bentuk subsidi yang dimaksud adalah pemberian akses internet melalui wifi maupun anjungan secara bergantian sehingga tak menimbulkan kerumunan.

“Jadi akses internet itu dapat dimanfaatkan oleh UKM, IKM, warga serta pelajar serta mahasiswa di kelurahan.Teknisnya diatur dalam bentuk WiFi maupun anjungan secara bergantian,” tandasnya.

Lebih lanjut, sambung dia, pemkot masih menunggu arahan pusat sambil mencari terobosan metode pembelajaran agar masyarakat tak terlalu lama terbebani. “Untuk evaluasinya sedang kami bahas,” tukasnya.

Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here