Tak Semua Murid Punya Gadget, Belajar Sistem Daring Dianggap Dipaksakan

0
468

Leuwisadeng l Jurnal Inspirasi

Pemerintah memberlakukan kegiatan belajar mengajar  sistem daring dengan belajar dari rumah untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). Namun masalahnya, tak semua murid memiliki gadget, handphone (hp) android atau fasilitas lain yang mumpuni seperti laptop atau komputer yang terhubung dengan internet.

Salah satunya terjadi di SMPN  1 Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng. Orangtua murid, Yamin (37) mengaku bingung semenjak berlangsungnya  kegiatan belajar sistim daring dengan menggunakan teknologi jaringan internet. Pasalnya, hingga sekarang dia belum bisa membelikan hp untuk belajar sang anak lantaran keterbatasan biaya.

Yamin merupakan warga asal Kampung Pasirgintung, Desa Batutulis, Kecamatan Nangggung yang berprofesi sebagai tukang ronce bunga melati di Rawa Belong, Jakarta Barat. Kini kedaan usahanya  lagi sepi, bahkan ia akan menjual sepedanya yang nantinya hasil uangnya bakal dibelikan sebuah  gadget. “Semenjak diterapkan belajar online harus menggunakan gadget, anak kami sudah ketinggalan pelajaran karena ketiadaan hp yang mumpuni,” kata Yamin, kepada Jurnal Bogor, Kamis (23/7)

Sementara Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Leuwisadeng Dedi Aryadi membenarkan sekarang ini sesuai instruksi pemerintah  kegiatan belajar mengajar memang  harus menggunakan sistem online,  maka itu mau tidak mau meski  dengan segala kekurangan kegiatan belajar ini harus dijalankan.

Menurutnya, yang jadi masalah sampai hari ini kata dia, ketika ada orang tua murid yang tidak mampu dan itu jadi pemikiran pihak sekolah. “Sebenarnya gimana caranya pemerintah yang mikir kalau mau melaksanakan belajar online, pemerintah harus menyediakan fasilitasnya,” kata dia.

“Atau misalnya siswa sudah mempunyai handphone, tetapi sebaliknya tidak punya kuota internet. Pastinya pemerintah untuk pemberian hp ke sejumlah siswa juga tidak akan dilakukan karena akan menanggung biayanya yang pasti membengkak. Nah, masalah internetnya juga bagaimana,” tukas Dedi.

Dedi melanjutkan, kegiatan belajar sistem online harus dievaluasi karena terkesan dipaksakan. “Itu tadi bagi orang tua siswa yang mampu tidak masalah, tapi banyak juga dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah.”

Di SMPN 1 Leuwisadeng sendiri kata dia, kurang lebih seribu siswa, dan diangka 50 persen yang belum memiliki fasilitas belajar online seperti memiliki gadget, sehingga kegiatan belajar mengajar di rumah pun terkendala. “Apalagi daerah pelosok yang bisa tak dijangkau jaringan internet tentu ini menjadi kesulitan untuk mengikuti pembelajaran sistem daring ini” paparnya.

“Di satu sisi kami juga sebagai orang tua tidak mau melihat anak-anak  terpapar virus Covid- 19, tapi idealnya harus ada kombinasi paling tidak ada pertemuan dengan  siswa, karena materi pelajaran tidak  bisa disampaikan secara online juga dan ada yang harus disampaikan secara langsung,” pungkasnya.

Tak haya sekolah SMPN 1 Leuwisadeng saja,  termasuk  sekolah favorit yakni Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al- Munawwar yang berlokasi di Kampung Pakapuran, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung. Dari jumlah siswa secara keseluruhan tergolong dari ekonomi mampu, namun ditengah pandemi yang telah melumpuhkan  sektor perekonomian dan merambah ke pendidikan, informasi yang dihimpun Jurnal Bogor dari sejumlah siswa SDIT Al- Munawwar masih ada beberapa orang tua murid yang masih belum memiliki  gadget sebagai penunjang fasilitas belajar.

Hal ini dibenarkan, oleh salah satu tenaga pengajar sekolah Al – Munawwar,  Suherni. Dia mengaku, belajar per zona sistem daring  selain adanya kesulitan  dengan tidak setabilnya jaringan internet, juga berdampak terhadap KBM yang jadi kurang maksimal.

Tak hanya SDIT, termasuk  orang tua siswa TK Al- Munawwar juga ada yang belum  memiliki gadget sehingga kesulitan ketika mengikuti pelajaran sistem daring. “Ada 1 atau 2 orang tua siswa yang  belum memiliki gadget,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Bogor  Nurodin  menyatakan, ditengah merebaknya Covid- 19, pemerintah harus berkomitmen menjaga penyebaran virus Covid 19 ini agar tidak menjalar kemana-mana. “Namun harus dipikirkan juga implikasi ke semua kegiatan sendi-sendi kehidupan seperti pendidikan,” kata dia.

Di sisi lain juga ada persoalan yang menimbulkan pro kontra  dengan pembelajaran sistem online karena masyarakat masih banyak tinggal di daearah terpencil  yang tidak ada sinyal serta alat komunikasi yang terbatas. “Itu menjadi persoalan mudah-mudahan kedepan hal hal ini juga menjadi perhatian serius dari pemerintah,” jelasnya.

Menurutnya, sebetulnya kondisi ini tidak diinginkan, anak-anak sekolah  memiliki waktu yang terbatas, dan interaksi yang dibatasi. “Tapi dari sisi positif kita pun harus melihat bahwa ini sebagian upaya pemerintah untuk menyelamaatkan rakyatnya,” imbuhnya. “Kalau bicara kekurangan tentu kekurangan di sana sini karena era digitalisasi ini belum menyeluruh menyentuh warga, juga perlu beradaptasi dengan sistem digital,” tutupnya.

** Arip Ekon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here