‘Klepon Tak Islami’ Penegak Hukum Diminta Turun Tangan

0
111

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut angkat suara soal unggahan ‘Kue Klepon Tidak Islami’ yang berujung viral di media sosial. Aparat penegak hukum diminta MUI mengusut tuntas pengunggah dan penyebar.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am menilai unggahan meme klepon itu termasuk berita bohong hingga memancing keributan dan permusuhan atas dasar Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

“Aparat penegak hukum perlu mengusut tuntas pengunggah dan penyebar unggahan di media sosial karena secara nyata telah menyebabkan kegaduhan,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh dikutip dari CNN, Kamis (23/7).

Unggahan ini awalnya muncul dalam bentuk foto kue klepon pada Senin (20/7) malam. Dalam keterangannya menyebut bahwa kue klepon tidak Islami dan harus ditinggalkan. Padahal kue tersebut halal.

Asrorun menilai, unggahan soal klepon itu berpotensi melecehkan ajaran agama. Ia meminta masyarakat tak terprovokasi dengan komentar-komentar miring terutama seputar agama dalam perdebatan soal itu. “Tidak terprovokasi dan terjebak pada komentar-komentar yang melecehkan ajaran agama atau membangun stigma buruk terhadap agama,” katanya.

Dari hasil penelusuran pakar media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi, unggahan itu berawal dari Facebook yang kemudian naik di Twitter dari akun @zsumarsono. Ismail menilai, perdebatan kue klepon yang terjadi di media sosial ini merupakan sisa-sisa dari persaingan Pilpres 2019. Menurutnya, perdebatan terjadi antarkedua kelompok tersebut.

Isu itu dianggap menyentuh dan mengangkat isu-isu atau karakter sensitif dan khas dari salah satu kelompok. “Residu pilpres tampaknya masih sangat kuat. Perolehan suara yang tak jauh terpaut bedanya, jelas membuat dua cluster pro-kontra yang relatif seimbang pendukungnya. Ini tentu tidak mudah untuk dileburkan tanpa upaya serius. Setiap saat siap untuk saling ‘serang’,” ucap Ismail melalui akun Twitternya.

Hasil analisis Ismail menunjukkan bagi yang senang dengan isu kue klepon akan membuat unggahan dengan kata kunci ‘kadrun’. Mereka percaya kelompok kadrun adalah kelompok yang membuat isu ini.

Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, foto klepon yang diunggah itu adalah hasil stok foto yang sudah tersebar di web. Penelusuran melalui Google menghasilkan satu foto yang sama digunakan di Pinterest.

Ismail juga menemukan sejumlah akun yang mencoba mencari kebenaran soal unggahan foto klepon tersebut. Analisis Drone Emprit ini mengambil data dari Online News, Twitter, Facebook Page, dan Instagram dengan data paling banyak diperoleh dari Twitter.

Sebelumnya Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring ikut buka suara. Tifatul menduga ada upaya pengalihan isu dengan hebohnya isu klepon bukan jajanan Islami tersebut. Hal ini disampaikannya dalam cuitan yang diunggah ke Twitter, Rabu (22/7). “Apakah ‘kelepon’ ini semacam pengalihan isu pihak-pihak tertentu yang sedang marak akhir-akhir ini?” tanya Tifatul.

Ia melanjutkan, “Kira-kira apa ya isu yang mau ‘ditutupi’ dan ‘dialihkan’ dengan isu ‘kelepon’ ini? Ada yang bisa jawab? Koq saya jadi kepo.” Dalam cuitan sebelumnya, Tifatul juga merasa munculnya isu klepon bukan jajanan Islami mirip propaganda PKI memojokkan Islam dan ulama. “Dilihat modusnya, isu “Kelepon Islami” itu persis cara propaganda pki memojokkan Islam & Ulama dari zaman baheula,” ujarnya.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika ini mengatakan bahwa seolah konten tersebut dibuat kalangan Islam, padahal pihak komunis yang memproduksinya. Tujuannya, kata Tifatul, agar bisa mengolok dan membully Islam dan ulama.

Setelah pernyataan itu diunggah ke Twitter, Tifatul mengaku banyak warganet yang justru marah-marah kepada dirinya. Ia heran dan meminta publik untuk membaca kembali sejarah pembantaian ulama tahun 1948. “Heran dengan yang marah-marah di posting ini. Apa mereka mau sembunyikan sejarah NKRI?” kata Tifatul.

“Coba baca sejarah, bagaimana PKI saat itu memfitnah agar ada alasan membantai Ulama & Santri. Ini mirip dengan modus ‘Isu Kelepon’ kan? Walau dulu lebih sadis & kejam,” imbuhnya.

Menurut Tifatul, dulu PKI memfitnah santri dan ulama kemudian disebar masif oleh kadernya. Pada akhirnya, ulama dan Santri dibantai. “Sekarang: Bikin konten Isu Kelepon –> Dibuzzer masif pertama oleh kalangan ‘yg kita tahu siapa’ –> Islam diolok-olok & dibully oleh ‘mereka-mereka juga’. Bisa lihat pola yang sama kan?” tulis Tifatul.

Untuk diketahui, munculnya isu klepon bukan jajanan Islami mulai ramai diperbincangkan warganet dan menjadi trending topik Indonesia di Twitter, Selasa (21/7).

Gambar klepon yang tersebar di sosial media memiliki narasi seperti berikut. “Kue klepon tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami.”

Masih belum jelas darimana dan siapa pembuat gambar tersebut. Namun, di bagian bawah tertulis nama “Abu Ikhwan Azis”.Kemudian banyak tokoh politik dan publik figur yang mengomentari isu tersebut.

ASS |*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here