Bogor Siapkan Transportasi Berbasis Rel

0
51

Bogor | Jurnal Inspirasi
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus mematangkan transportasi berbasis rel atau trem. Pemkot pun sudah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) atas perubahan kedua Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor Nomor 10 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

“Seperti sudah disampikan beberapa waktu lalu bahwa menang trem ini melengkapi keseluruhan sistem transportasi di Kota Bogor,” ujar Wakil Walikota Bogor Dedie A. Rachim kepada wartawan, Kamis (16/7).

Menurut dia, DPRD menyambut baik pengajuan raperda untuk menjadi payung hukum trem. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yakni mengenai pembiayaan dan proses pembangunan trem. “Raperda transportasi ini dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),” kata dia.

Selain keseriusan dalam membuat payung hukum. Ia mengaku sudah melakukan pembahasan tindak lanjut untuk Feasibility Study (FS) bersama PT Iroda Mitra hingga Colas Rail. Walau dipastikan akan ada kemunduran hasil final FS lantaran pandemi Covid-19. “Kami perpanjang sampai Desember. Kemudian mereka akan presentasikan secara menyeluruh tentang trem,” papar Dedie.

Dedie menyatakan bahwa FS telah memiliki banyak kemajuan kajian. Termasuk, menyiapkan sistem kerjasama pembiayaan hingga koridor yang akan dibangun. Kata dia, payung hukum dan FS trem untuk menyambut Light Rail Transit (LRT) yang berujung di Baranangsiang, Kota Bogor. Sebab, pemeritah pusat telah mengaturnya dalam Peraturan Presiden (Peres) Nomor 49 Tahun 2017 Perubahan Kedua atas Perpes Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Dan Bekasi.

Lebih lanjut, kata Dedie, pemerintah ingin memastikan LRT dapat dikelola dengan baik. Jangan sampai, kebijakan pusat tak direspon daerah. “Tidak mungkin pemeritah pusat merencanakan kita nggak. Jadi harus betul-betul sesuaikan substansinya,” ungkapnya.

Sementara itu, CEO Iroda Mitra, Mirza Whibowo Soenarto menegaskan bawa pihaknya akan terus menjadwalkan laporan progres FS. Ia juga mengaku sudah mendapat hasil kajian yang lebih signifikan.

Colas Rail merekomendasikan agar menggunakan trem baru ketimbang hibah dari Utrecht, Belanda. Diperkirakan untuk memboyongbbeberapa unit trem dibutuhkanbbiaya sebesar Rp1,5 triliun.

Kata dia, pendanaan trem memang tinggi. Tetapi, ia berjanji bakal mengupayakan bantuan dari pusat. Sementara untuk progres kajian, sambungnya, telah mencapai 60 persen. “Desember kami akan serahkan proposal. Parameternya sudah ada, tinggal penyesuaian,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here