AJI Surabaya Kritik Seremoni Pejabat

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi 
Puluhan jurnalis dan pekerja media di Jawa Timur terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19). Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya pun mengungkap keprihatinannya. Para jurnalis yang terpapar covid-19 di antaranya 54 orang dari RRI Surabaya, 3 orang dari Metro TV Surabaya. Ada pula 3 orang dari TVRI Jatim, 2 di antaranya bahkan telah meninggal dunia.

“Pertama, kami prihatin dengan banyaknya pekerja media dan jurnalis yang terpapar Covid-19,” kata Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl dikutip dari CNN, Rabu (15/7).

Menurutnya ada tiga pihak yang perlu dievaluasi. Di antaranya yakni institusi pemerintahan, perusahaan media dan jurnalis itu sendiri. Evaluasi tersebut berkaitan dengan penerapan protokol keselamatan peliputan, yang dinilai telah diabaikan tiga pihak tersebut.

Faridl mengungkapkan, sejak Maret 2020 lalu, AJI Surabaya sebenarnya telah mengirimkan surat kepada Pemerintahan Provinsi Jatim dan Pemerintah Kota Surabaya. Rekomendasi itu mengingatkan pentingnya protokol keselamatan peliputan bagi jurnalis.

“AJI merespons berbagai aktivitas dari para pejabat di Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim, terkait pengabaian mereka terhadap protokol keselamatan peliputan jurnalis,” ujarnya.

Dari surat kepada dua instansi tersebut, kata Faridl, masukan-masukan AJI Surabaya telah sempat dijalankan oleh beberapa instansi pemerintah. Namun hal itu ternyata hanya berjalan sementara waktu.

Fakta yang ditemukannya di lapangan, beberapa instansi ternyata pemerintah malah makin rajin menggelar acara seremonial dan mengundang bangak kerumunan pejabat dan wartawan untuk datang.

“Namun kalau AJI lihat ada banyak sekali hal-hal yang masih muncul pengabaian, misalnya banyaknya acara seremonial yang diselenggarakan para pejabat ini,” katanya.

Menurutnya, prilaku pejabat yang seringkali menggelar acara seremonial tersebut, bukanlah bagian dari informasi yang penting bagi publik dan tak perlu diliput oleh jurnalis.

“Ada banyak sekali pemberitaan soal seremonial, apa untungnya bagi publik, apa publik teredukasi dengan gaya pejabat yang narsis, yang ingin setiap hari masuk di layar TV, di koran, di media, menunjukkan mereka seolah-olah sudah bekerja dengan baik,” ujarnya.

Sesi seremonial seperti itu, kata Faridl, bisa tetap diberitakan oleh media, tanpa jurnalisnya perlu melakukan peliputan secara langsung hingga membahayakan keselamatannya. “Apa buktinya? Buktinya ada banyak pejabat yang terkonfirmasi positif Covid-19, bahkan ada yang meninggal, ada banyak jurnalis yang terkonfirmasi positif dan kemudian juga ada yang meninggal,” ujarnya.

Selanjutnya, yang juga perlu dievaluasi adalah otoritas perusahaan media. Berdasarkan laporan yang pihaknya terima, Faridl menyebut banyak jurnalis ternyata masih terus ditugasi kantor, meski objek yang diliput mengabaikan protokol keselamatan dalam peliputan.

“Mereka tidak ada pilihan ketika harus melakukan peliputan, ntah itu peliputan yang melanggar protokol keselamatan, atau liputan tak penting yang sifatnya seremonial, dia tidak memiliki kuasa yang cukup terhadap dirinya dan keselamatannya, jadi tidak didukung oleh perusahaannya,” ujarnya.

Menyikapi temuan itu, AJI pun mendorong perusahaan-perusahaan media itu untuk membuat dan menerapkan protokol keselamatan dalam peliputan, baik untuk jurnalis di lapangan, maupun pekerja media yang ada dalam kantor.

“Kalaupun mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat, protokol keselamatan dalam peliputan, mereka bisa mengadopsi apa yang sudah di susun AJI dan Komite Keselamatan Jurnalis,” ucapnya.

Terakhir, temuan AJI, selama masa pandemi banyak sekali pewarta berperilaku abai terhadap protokol keselamatan liputan.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan jurnalis bersikap abai, yang pertama yakni ketidaktahuan, yang kedua jurnalis itu memang tidak mau tahu, dan yang ketiga jurnalis tidak memiliki ruang untuk melakukan penolakan terhadap situasi yang membahayakan.

Faridl berharap jurnalis sadar bahwa virus Covid-19 ini, sudah sangat dekat dengan profesinya, bahkan telah mendekati orang-orang yang ada di sekitar mereka. Bisa saja para pejabat atau narasumber yang diwawancarai narasumber ternyata terpapar corona.

ASS|*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here