Kisruh BPNT Kabupaten Bogor Jadi Sorotan

0

Kualitas Suplier Dipertanyakan

Pamijahan  | Jurnal Inspirasi
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) belakangan ini terus menjadi sorotan. Pasalnya, selain disinyalir jadi ajang proyek berebut ingin jadi suplaier, kualitas barang pun ditemukan di beberapa kecamatan memiliki kualitas buruk.

Aktivis Mahasiswa Pemuda Bogor mengendus BPNT dari Kementerian Sosial yang diberikan kepada warga atau keluarga yang tergolong kategori miskin di Pamijahan disinyalir terdapat praktik KKN. “BPNT yang diberikan kepada keluarga miskin tersebut diduga jauh dari kualifikasi panganan rakyat. Beberapa pekan terakhir ini memantau ada beberapa komoditi yang tidak layak konsumsi, ada kualitas komoditi yang diberikan kepada warga sangat tidak sesuai dengan tujuan bantuan non tunai tersebut,” kata aktivis asal Pamijahan Yogi, baru -baru ini.

Soal  kisruhnya BPNT pun tak hanya diketahui kalangan aktivis, Anggota DPRD Kabupaten Bogor Ruhiyat Sujana pun menyoroti buruknya kualitas BPNT  di wilayah Kabupaten Bogor. “Banyak berebut jadi suplier tapi soal kualitas tak diperhatikan,” tegas Ruhiyat.

Ia pun menambahkan para suplier jangan hanya melihat sisi bisnis untuk mencari keuntungan sebagai penyalur barang. Namun kualitasnya pun harus jadi perhatian yang utama. “Dan juga saat menyediakan bahan pokok harus juga menanyakan ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) maunya apa, tanyakan jangan ini KPM dikasih yang tidak sesuai kebutuhan,” kata Ruhiyat.

Ruhiyat pun meminta soal BNPT pemberdayaan produk lokal  juga harus diperhatikan. “Yang utamanya harus memanfaatkan produk lokal harus memperkuat, artinya produk lokal harus diberikan ruang juga,” tegasnya.

Sementara Itu Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Bogor Rustandi mengatakan, pihaknya sudah ke lapangan. Namun jika menemukan masalah seperti itu harus dihentikan. “Bantuan regular dan perluasannya kalau kualitas kan saya sudah sering ke lapangan, agen dan suplier harus dihentikan kalau tidak penuhi mutu dan jumlahnya,” kata dia.

“Kalau mau jadi suplier dalam pedumnya bias, namun bila agen belum bisa mandiri, juga harus punya dukungan modal serta jaringan produksi dan jangan asal memilih kualitas kalau itu sampai terjadi harus diganti,” kata Rustandi.

Rustandi  tak menampik ada masalah soal BNPT, ia menemukan bantuan pangan perluasan ditemukan kualitas yang tidak sesuai, contoh ada tempe busuk dan ada nanas yang tidak masuk dalam rumpun sembako. “Intinya ketika ingin jadi suplaier semua pihak komitmen kepada pedum program sambako, jangan asal-asalan,”pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here