Kendarai Motor Tua, ASB: Saya Ingin Selalu Dekat dengan Ayah

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

kesederhanaan, itulah yang ingin ditunjukan oleh Anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PPP, Akhmad Saeful Bakhri (ASB). Betapa tidak, meski label pejabat kini melekat pada dirinya. Ia tetap mengendarai motor Honda Super Cub 800 keluaran tahun 1982.

Setiap hari, ASB mengendarai motor tua tersebut dari rumahnya di kawasan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, menuju gedung DPRD di Jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Sareal.

Kepada Jurnal Inspirasi, ASB pun menceritakan alasannya mengendari motor tersebut. Ia menyebut bahwa motor tua berwarna merah putih itu adalah salah satu saksi bisu perjalanan hidupnya. Pasalnya, sepeda motor pabrikan Jepang itu selalu mengingatkannya pada sosok mendiang sang ayah, yang telah berpulang beberapa tahun lalu.

“Motor ini membuat saya memgingat romantisme perjuangan ayah. Saya ingin selalu dekat dengan ayah,” ujar ASB di kantornya, Rabu (24/6/2020).

Ia menjelaskan, motor itu selalu merasa membuatnya dekat dengan mendiang ayahanda tercinta. Sehingga ia berharap, spirit sang ayah dapat terus menemaninya dalam melangkah, dan menuntunnya ke jalan yang di-ridhoi Allah SWT sesuai amanat almarhum. “Ini motor yang ayah saya gunakan setiap harinya untuk berikhtiar menghidupi keluarga kami dulu,” katanya.

Bahkan, iapun menggunakan motor Super Cub tersebut saat menuntut ilmu di salah satu universitas di Jakarta hingga bekerja sebagai wartawan. “Dulu waktu kecil, saya kemana-mana dibonceng ayah dengan motor ini. Sekolah sampai kuliah, hingga bekerja dan berkeluarga saya selalu menggunakan motor ini. Sayang ketika saya bisa seperti sekarang ini, ayah sudah nggak ada,” ucapnya sambil menitihkan air mata.

Lebih lanjut, ASB menegaskan bahwa hingga kini ia sama sekali tak berniat untuk mengubah nama kepemilikan pada sepeda motor tersebut. Sebab, kendaraan roda dua tersebut adalah barang ‘keramat’ hingga bisa mengantarnya menjadi pengusaha sampai duduk di kursi parlemen.

“Saya nggak akan ubah nama kepemilikan di STNK. Sebab, ini adalah salah satu peninggalan ayah kepada saya yang paling berharga,” katanya.

Bahkan, ASB mengaku takkan pernah menjual motor tersebut, meski ada yang menawar dengan harga selangit. “Sudah ada yang nawar dengan harga tinggi. Tapi nggak akan saya jual. Seberapapun besaran rupiah, takkan bisa menggantikan sejarah yang terukir dari motor ini,” ucapnya.

Terkait biaya perawatan, kata ASB, motor klasik jauh lebih murah dibanding motor mewah. “Gampang merawatnya, hanya merawat platina, busi ya seputar pengapian saja, jadi lebih mudah dibanding motor sekarang, saya lebih nyaman pakai motor ini,” paparnya.

Anggota Komisi IV itupun mengatakan bahwa ia ingin menghapus stigma bahwa pejabat negara selalu hidup dalam kemewahan. “Saya ingin menghapus stigma bahwa menjadi anggota dewan itu bukan untuk menaikan taraf hidup pribadi, tidak perlu dan tidak harus selalu bermewah-mewah. Menjadi wakil rakyar adalah untuk mengabdi serta,” jelasnya.

Ia menuturkan, sebagai anggota dewan ia harus menjadi jembatan kesederhanaan karena rakyat telah memberikan amanah kepadanya untuk memperjuangkan nasib mereka ke arah yang lebih baik. “Saya tidak mau kalau masyarakat menilai bahwa anggota dewan itu selalu hidup dalam kemewahan,” ucap dia.

Lebih lanjut, ASB mengaku memiliki beberapa kendaraan antik seperti Vespa dan Jeep Willys hingga sepeda ontel. “Saya memang senang dengan barang klasik. Tapi motor almarhum ayah takkan dijual sampai kapan pun,” ucapnya.

Ia menjelaskan, memiliki dan merawat barang klasik membuatnya tidak akan lupa akan sejarah. “Jadi dari klasik itu muncul sebuah kesederhanaan yang membuat kita tidak lupa akan sejarah,” pungkasnya.

Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here