SMAN Kota Bogor Tolak Calsis Atlet Binaan KONI

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Atlet-atlet dari beberapa cabang olahraga binaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor, ternyata banyak yang ditolak menjadi calon siswa (Calsis) di semua SMAN yang ada di Kota Bogor. Ätlet yang ditolak menjadi Calsis di semua SMAN yang ada di Kota Bogor itu merupakan binaan dan andalan KONI di berbagai even termasuk Porda. “Mereka ditolak menjadi Calsis dengan berbagai alasan,”kata Ketua KONI Kota Bogor Moch Benninu Argoebie, kepada wartawan usai berdialog dengan jajaran pengurus PWI, Kamis (18/06).

Benninu mengaku sedih dengan banyaknya penolakan-penolakan itu, karena kalau tak diterima di SMAN  otomatis mereka bersekolah di SMA swasta. “Mereka (atlet-re) mendaftar ke sekolah yang mereka tuju sudah mendapatkan rekomendasi resmi dari KONI Kota Bogor, namun masih ditolak. Hal ini yang membuat saya kecewa dengan kebijakan tersebut,” ujarnya.

Pria yang dekat disapa Benn itu menjelaskan,  kejadian pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 ini berbanding terbalik dengan tahun ajaran 2019/2020, karena saat ini semua atlet yang mengantongi rekomendasi mutlak dari KONI diterima di semua SMAN yang dituju.

“Alasannya yang menyebabkan atlet kami ditolak jadi Calsis, karena sekolah sudah menentukan cabang olahraga yang menjadi unggulan sekolah, padahal, kalau melihat peraturan gubernur (Pergub) Jawa Barat, tidak ada batasan cabang olahraganya. Tetapi di Kota Bogor, khususnya SMA Negeri di Kota Bogor membatasi cabang-cabang olahraga yang diterima. Karena dari 47 cabor hanya diterima 21 cabor. Artinya ada 26 cabor kami yang berprestasi tidak diterima,” ungkapnya.

Benn juga melanjutkan, kalau hasil koordinasi dengan Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Kota Bogor. Menyarankan agar siswa yang tidak diterima di SMA Negeri di Kota Bogor, menyarankan untuk masuk ke sekolah swasta. Artinya sambung Benn itu bukan satu jawaban yang pro terhadap siswa didik yang berprestasi di bidang olahraga.

“Tahun ini ada 400 siswa yang melalui jalur prestasi, tapi banyak yang ditolak. Sedangkan tahun lalu hanya 10% saja, namun tidak ada yang gagal. Justru sebaliknya dengan adanya penambahan kuota 25% di tahun 2020, malah banyak yang ditolak. Saya pikir ini ada hal yang salah, dan ini harus sama-sama segera kita perbaiki,” tambah Benn.

Yang pasti KONI Kota Bogor, mengusulkan kepada Provinsi Jawa Barat untuk bisa mengevaluasi kejadian ini. Terutama yang terjadi di Kota Bogor, supaya tahun berikutnya tidak ada lagi atlet-atlet daerah yang tidak bisa sekolah di SMA Negeri. Karena itu hak, apalagi SMA Negeri di Kota/Kabupaten ini adalah pilar utama yang menerima atlet-atlet berprestasi.

“Kedepan mungkin perlu dibahas tentang kewenangan-kewenangan SMA Negeri dengan pemerintah setempat, agar siswa beprestasi dari cabor dapat diterima di sekolah negeri,” pungkasnya.

** Asep Syahmid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here