Jelang ‘New Normal’, Petani Sayuran Paceklik Modal

0
109

Megamendung | Jurnal Inspirasi

Menjelang new normal yang bakal diberlakukan pekan depan oleh pemerintah Kabupaten Bogor, bagi para petani sayuran yang ada di wilayah Cisarua dan Megamendung merupakan waktu yang sangat menyedihkan. Pasalnya, sejak adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19 yang sudah berjalan selama 3 bulan, hasil komoditi mereka tidak bisa dijual akibat terhalang oleh PSBB.

Kini, untuk melakukan penanaman sayuran yang baru, para petani yang jumlahnya mencapai ratusan itu kelimpungan untuk mendapatkan modal. Hidup mereka kini morat marit akibat adanya wabah virus Corona. “Tanaman sawi dan kacang panjang waktu itu tidak bisa kami jual ke pasar. Karena, para pedagang dipasar waktu berjualannya sangat terbatas. Satu mobil bak terbuka, kacang panjang hasil panen waktu itu terbuang akibat tidak bisa dikirim ke Pasar Induk Jakarta. Dan akibat hal itu kita mengalami kerugian yang cukup besar,” ujar Yadi, salah seorang petani di Megamendung.

Selain hasil pertaniannya tidak bisa dijual ke pasar-pasar besar, para petani tersebut harus berjuang bertahan hidup selama pandemi. Tidak sedikit, mereka menjual berbagai barang-barang berharganya untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. “Kita sangat kesulitan. Kalaupun ada uang sedikit itu dipakai untuk beli beras. Dan untuk bercocok tanam kembali, kini kami tidak memiliki modal. Hasil pertanian kita harganya jatuh, sementara untuk membeli pupuk dan obat obatan anti hama tetap mahal. Ini perlu adanya penanganan dari pemerintah hingga para petani bisa melanjutkan bercocok tanamnya,” kata Idrus, petani lainnya.

Pantauan di beberapa lokasi lahan pertanian sayur mayur di Megamendung, kini banyak lahan pertanian yang biarkan telantar. Selain para petani itu tengah mencari modal, mereka juga berharap pandemi Covid-19 cepat berakhir. “Adanya kelonggaran dari pemerintah sekarang ini lumayan sedikit membantu. Kita bisa berusaha melangkah mencari modal. Diawal tanam ini memang benar-benar memerlukan perhatian dari pemerintah,” pungkas Idrus.

** Dadang Supriatna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here