Warga Tugu Utara Keluhkan Pembangunan Hotel dan Resto

0
37

Cisarua | Jurnal Inspirasi

Warga Kampung Tugu Netral, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor mengeluhkan pembangunan hotel dan resto di Jalan Raya Puncak. Keluhan tersebut muncul setelah bangunan rumah milik warga, mengalami retak-retak akibat getaran di proyek pembangunan hotel dan resto tersebut.

Jatun, warga Kampung Tugu Netral RT 002/001 mengungkapkan,  pembangunan hotel di wilayahnya sudah sangat mengganggu. Selain mengakibatkan kebisingan, kerusakan hingga kekotoran lingkungan menjadi persoalan baru sejak proyek tersebut berjalan.

“Selama ini keluhan warga tidak pernah didengar pihak pemilik maupun pelaksana. Padahal kami paling terdekat dengan lokasi pembangunan, tak sampai 10 meter jarak rumah warga dengan lokasi proyek,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, keluhan warga sudah pernah didengar oleh pihak pemerintah desa, sehingga upaya mediasi pun antara warga dengan pemilik pernah dilakukan melalui desa.  “Namun sampai saat ini, hasil mediasi itu tidak kunjung ada penyelesaian. Bahkan terkesan diabaikan pihak pemilik bangunan,” keluh Jatun.

Ia berharap, pihak pengembang maupun pemilik bisa mengakomodir keluhan warga terdampak.

“Ini sih kompensasi tidak ada sama sekali, aktifitas pembangunan sangat mengangganggu pun terus dilakukan pemilik,” paparnya.

Ia dan warga lainnya, tidak akan mempersalahkan pembangunan tersebut, apabila dari pihak pemilik maupun pengembang meminta dulu pendapat warga. “Baik itu ke tokoh (masyarakat) di sini, atau langsung warga terdampak. Yang penting ada musyawarah dulu dan mendengar pendapat warga, ini sih tau-tau di bangun saja,” kesalnya.

Keinginan warga, sambung Jatun, tak lain hanyalah ingin dihargai oleh pemilik ataupun pelaksana pembangunan hotel dan resto terutama ke warga yang jaraknya paling terdekat. “Kami minta akibat pembangunan tersebut yang mengakibatkan kerusakan rumah warga, bisa diganti, minimal ada kompensasi,” paparnya.

Tidak hanya itu, kondisi Jalan Raya Puncak pun kerap kotor karena truk pengangkut tanah selalu melebihi kapasitas. “Itukan jalan nasional, angkutan proyek hilir mudik di jalan itu hingga mengakibatkan kotor,” imbuh Jatun.

Sementara, Kepala Desa Tugu Utara, Asep Mamun Nawawi belum bersedia memberikan keterangan terkait persoalan keluhan warga.

Dede Suhendar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here