Stop Panic Buying

0
211

Bogor, Jurnal Inspirasi

Wabah virus Corvid-19 atau Corona yang mulai menyerang Indonesia, cukup membuat panik masyarakat. Hal itu terbukti dari langkanya masker dan hand sanitizer (pembersih tangan antiseptic) di pasaran sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ada dua warga Depok yang positif Corona pada Senin (2/3).

Berdasarkan penelusuran wartawan koran ini, di apotik dan minimarket di kawasan Bogor Utara serta Timur, sudah kehabisan stok masker maupun hand sanitizer. Pada salah satu apotik di bilangan Jalan Bangbarung, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, bahkan memasang tulisan bahwa stok kedua barang tersebut habis. “Sudah habis mas dari Senin (2/3) sore. Stoknya belum datang lagi,” kata salah satu pegawai apotik.

Begitupun ketika Jurnal Bogor menyambangi minimarket kawasan Jalan Pandu Raya. “Habis (masker dan hand sanitzer) dari kemarin,” ucap salah seorang kasir minimarket. Fenomena serupa pun terjadi di minimarket yang berlokasi di bilangan Bantarkemang, Kecamatan Bogor Timur. “Stoknya sudah habis, banyak juga orang yang nyari soal itu,” kata salah seorang pegawai, Lina.

Sementara berdasarkan hasil penelusuran di marketplace online, harga masker mulai meroket yang tadinya Rp25 ribu per box dengan isi 50 buah, kini dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp380 ribu per box. Begitupun dengan harga hand sanitizer yang mulanya Rp70 ribu untuk ukuran 500 milimeter. Kini dapat mencapai Rp130 ribu hingga Rp145 ribu per kemasan.

Hal itupun membuat Anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PDI Perjuangan, Atty Somaddikarya angkat bicara. Menurutnya, segala bentuk penimbunan barang yang merupakan kebutuhan sehingga menyebabkan kepanikan di masyarakat adalah sebuah kejahatan. “Aparat penegak hukum harus bergerak menyelidikinya. Apalagi penimbunan barang dilakukan untuk meraup keuntungan dengan menaikan harga berkali-kali lipat,” ujarnya kepada wartawan.

Selain itu, kata Atty, Dinas Perindustrian dan Pedagangan (Disperindag) Kota Bogor harus segera turun tangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. “Mesti turun tangan dan menjamin kebutuhan soal masker dan sabun cuci tangan antiseptic terpenuhi, dan tidam terjadi gejolak,” ungkap politisi PDI Perjuangan ini.

Pemerintah, sambung Atty, wajib mengimbau masyarakat agar tak berduyun-duyun menimbun kedua barang itu, dan menstok bahan makanan. “Jangan sampai di Bogor ada fenomena panic buying. Sebab, bila terjadi kelangkaan, masyarakat juga yang dirugikan,” katanya.

Atty menyatakan, masyarakat wajib waspada terhadap potensi penyebaran virus Corvid-19. Namun tidak boleh terlalu panik sehingga membuat gaduh dengan melakukan penimbunan yang menyebabkan kelangkaan barang.

“Kalau ingin memakai masker di tempat ramai nggak apa-apa. Tapi yang paling penting membiasakan perilaku hidup sehat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Atty juga mengimbau agar masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala demam, batuk dan tenggorokan sakit. “Segera periksakan ke dokter, agar dapat segera diketahui penyebab sakit. Ini adalah bentuk kewaspadaan kita,” paparnya.

Dalam kesempatan berbeda, Anggota Komisi IV DPRD, Saeful Bakhri mengatakan, pemerintah harus melakukan antisipasi terhadap merebaknya virus tersebut. “Tiap puskesmas harus memberikan penyuluhan agar masyarakat tak panik,” katanya.

Selain itu, Disperindag pun harus mengontrol soal ketersediaan masker dan sabun cuci tangan antiseptic. “Ini kan sudah jadi kekhawatiran masyarakat. Mesti ada langkah antisipasi,” katanya.

Saeful juga meminta agar masyarakat tak panik dengan melakukan aksi borong masker dan hand sanitizer.

Terpisah, Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengimbau masyarakat Kota Bogor menyikapi penyebaran virus Corona dengan proposional dan tidak berlebihan. Namun, tetap memprioritaskan kewaspadaan dan kesiagaan.

“Lurah, Camat, Puskesmas harus siaga semua memonitor setiap laporan warga. Jadi pasien yang datang pasien yang ngeluh itu disikapi dengan waspada tinggi. Bgitu panas, begitu batuk protap berjalan,” katanya.

Ia juga meminta Dinas Kesehatab untuk melakukan pengecekan kesiapsiagaan secara rutin. Kata Bima, apabila ada warga yang terindikasi Corvid-19, tidak boleh datang sendiri untuk memeriksakan diri. “Harus dijemput, dan dikoordinasikan. Ada gugus tugas khusus ada hotline ada layanan gawat darurat dari Dinkes. Di Bogor memang tak ada rumah sakit rujukan Corona. Tetapi untuk observasi disiapkan di setiap rumah sakit dengan protap aturan dari Dinkes,” ucapnya.

Kata dia, pola hidup sehat cuci tangan dan menjaga kebersihan merupakan langkah untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh.

Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here