Terlilit Utang ‘Bank Emok’, Satu Keluarga Tinggalkan Kampung

0
Endang Farid Ma'ruf

Tanjung Sari | Jurnal Bogor

Keberadaan bank keliling atau biasa disebut ‘Bank Emok’ di Kabupaten Bogor terbilang meresahkan. Pasalnya, akibat sistem yang dibuat oleh bank itu sangat merugikan nasabahnya. Bahkan akibat salah satu warga yang didominasi emak-emak itu tak bisa membayar cicilannya banyak yang Cerai dengan suami, meninggalkan rumah beserta keluarganya dan masih banyak lagi.

Hal itu nyata terjadi di Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, lantaran terhimpit ekonomi, banyak dari warganya yang bergantung kepada Bank ‘Emok’ hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun akibat dari dari terlalu banyak uang yang dipinjam hingga tidak bisa mengembalikan tunggakannya, satu keluarga di Desa tersebut bahkan harus meninggalkan rumahnya lantaran malu dengan tetangga dan nasabah lainnya.

Istilah ‘Bank Emok’ lahir dari kata bahasa Sunda yang berarti duduk. Dalam perjanjiannya, ada yang disebut tanggung renteng atau tanggung bersama. Bilamana ada salah satu nasabah yang tidak membayar cicilannya maka nasabah yang lain yang harus menanggung pembayaran secara bersama. Hal itu yang membuat banyak warga yang meninggalkan rumah dan bercerai lantaran malu dengan nasabah lain.

Kepala Desa Sukarasa, Endang Farid Ma’ruf mengatakan dirinya sangat keberatan dengan adanya tersebut lantaran sudah meresahkan warganya. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak, karena pada saat berencana membubarkan bank tersebut ada beberapa warga yang tidak setuju. Biasanya dari yang tidak setuju itu karenan akan ada pencairan dan dianggap menunda pencairan jika pihak desa melakukan penghentian.

“Kalau kita dari pihak desa sangat keberatan dengan adanya ‘Bank Emok’ tersebut, soalnya sudah banyak yang jadi korbannya. Ada suaminya yang gak tau kalo istrinya pinjem, pas ada yang tagih akhrinya suaminya tau dan bahkan ada yang cerai. Ada lagi yang sampai ninggalin rumahnya karena malu sama tetangga lain, itulah yang bikin resah,” ucapnya.

“Selain banyak yang dirugikan, saya juga sangat menyayangkan banyaknya warga yang membutuhkan dana dari bank k itu untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi kita juga kebingungan utnuk mengatasinya, saat kita mau mencegah ‘Bank Emok’ masuk, malah ada yang menghalangi katanya mau ada pencairan.” sambungnya.

Tak mau banyak yang jadi korban, Farid sapaan akrabnya berencana akan mengatasinya dengan program yang akan hadir di Kecamatan Tanjungsari dengan menggandeng Bank Jawa Barat (BJB) dengan pinjaman tanpa bunga. Namun, dia tidak mengetahui pasti kapan program tersebut akan terwujud lantaran pihaknya masih mencari info terkait dengan peluncuran pinjaman tanpa bunga tersebut.

“Saya dengar akan ada program pinjaman tanpa bunga yang bekerjasama antara Kecamatan Tanjungsari dan Bjb. Nantinya warga akan dialihkan untuk meminjam ke bank milik Pemerintah Jawa Barat itu. Untuk pastinya nanti akan saya cari informasi ke kecamatan. Karena memang hal seperti itulah yang bisa mencegah masuknya ‘Bank Emok’ ke desa Sukarasa,” tandasnya.

Nay Nur’ain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here